Jumat, 29 November 2013

life begin at 20's


halo selamat bersua kembali. usam sekali tampilan mu, tapi tidak berubah hanya saya yang semakin menyukai banyak hal. hari ini, di hari terakhir pada bulan pengais akhir tahun saya ingin kembali menulis. bercerita sekaligus berbagi betapa umur 20 tahun ini mengajarkan hal-hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. jari ini masih kaku ketika ingin memulai, tapi biarkan saya coba.

semua berawal saat hari itu tiba, semua ucapan dan doa yang datang membuat harapan-harapan yang sebelumnya tidak terpikirkan menjadi acuan untuk kedepannya saya harus ini dan itu. keinginan terbesar belakangan ini yang terus menyeruak adalah berpegian. pergi dan mencari pengalaman. bercerita dengan foto, berbagi dengan kebersamaan. saya ingin berpergian, kemanapun. dengan jadwal kuliah yang tidak terlalu padat pada semester kelima ini, tidak terlalu menggangu kuliah.

sebetulnya banyak tempat yang sudah saya kunjungi di tahun ini, namun saya akan menceritakan yang paling berkesan dan yang lainnya akan saya ceritakan dikesempatan yang berbeda.

---Papandayan, 29 Oktober 2013

H-7 keberangkatan, seorang kawan memang sudah mempunyai rencana untuk mendaki gunung, hal ini bukan kali pertamanya, dan saya di tawari untuk ikut. sontak saya mengiyakan dan mempersiapkan segala hal untuk hari H. kawan saya, ayu berencana untuk pergi bersama kawannya yang lain, niki. dan ternyata ayu juga membawa teman baru yaitu para pria pencita jalan-jalan juga yang dikenalkan oleh teman ayu yang lain, adul. namh para pria ini adalah sigit, adit, andes dan novri. sedang adul tidak jadi ikut. saya dengan niki juga dengan para pria itu belum saling mengenal. H- beberapa hari mereka bertemu untuk mengadakan rapat dan merencanakan perbekalan dan lain sebagainya. ada kawan jauh saya juga yang menyusul yaitu hima dari jatinangor. tidak disengaja saya juga mengajak teman sekolah saya yaitu rapin. yang kesemuanya pun belum saling mengenal. jadilah kami bersembilan : saya, ayu, hima, rapin, niki, sigit, andes, novri dan adit dipertemukan dalam sebuah perjalanan singkat ke garut, jawa barat.

singkat cerita, diakhir pekan tanggal 29 oktober. yaitu jumat malam saya bersama rapin berangkat ke terminal lb. bulus untuk menuju garut. sedang rombongan depok ( ayu, niki, sigit, adit, andes, novri ) berangkat dari terminal kp. rambutan dan hima menyusul dari gerbang tol cileunyi. pagi-pagi buta, sabtu 30 oktober saya rapin dan hima sampai duluan di terminal guntur garut. selang beberapa waktu tiba rombongan dari depok. kami dengan segala bawaan dan dinginnya kota garut, mulai berkenalan satu dengan yang lain. perkenalan cukup dan kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah musollah dekat terminal hingga fajar tiba.
matahari mulai terbit, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke kaki gunung papandayan. para pria mencari akomodasi yang ternyata banyak para angkot yang siap untuk di sewa oleh para pendaki yang kala itu lumayan padat di terminal Guntur. tak menunggu lama, akhirnya kami mendapat sewaan angkot dengan biaya yang lumayan dan berangkat ke kaki gunung papandayan. jarak yang ditempuh kurang lebih satu jam dan kemudian kami lanjutkan dengan naik mobil bak terbuka karena jalanan yang mulai curam berbatuan. matahari mulai menyengat, panas matahari pagi dan dingin yang masih menyisa di malam hari hari mengantarkan kami di pintu masuk pendakian gunung papandayan. sudah banyak para pendaki lain, baik yang sudah siap untuk naik maupun yang masih duduk santai berfoto-foto di kaki gunung.
pendaftaran siap, perbekalan serta alat sudah masuk di cariel kami mulai dengan doa dan pendakian pun dimulai. kami disambut dengan bau belerang yang semakin naik semakin menyengat. gunung papandayan tidak terlalu curam diawal namun pada saat menuju hutan mati track nya agak curam namun landai lagi setelah itu. saya dan wanita-wanita lainnya selain rapin hanya membawa daypack yang isinya keperluan pribadi saja, rapin membawa cariel ukuran besar untuk membawa tenda dan perlengkapan lainnya. setelah berkali-kali beristirahat dan berfoto-foto, sekitar 3 jam perjalanan sampai di pondok salada tempat camping kami. (kalau dilihat-lihat baru beberapa jam perjalan dan berkenalan kami langsung akrab ya di foto. hahaha)
setelah mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda, kami semua saling membantu untuk mendirikan tenda. tak lama akhirnya tadaaaaaaa! tenda siap. para wanita membereskan perbekalan dan mulai memasak, sedang para pria mencari air lalu tidur zzzzz. waktu semakin siang dan perut sudah tak tertahan untuk di isi. namun nasi yang dimasak kami para wanita belum juga masak, lauk pauk pun belum matang. syukur para pria dengan sabar menanti dan ikhlas menerima apapun jadinya masakan yang telah ada hahahahaha. maklum, pengalaman pertama memasak digunung. setelah makan siang, solat dan bersih-bersih untungnya di papandayan ini terdapat sumber air yang cukup sehingga tidak terlalu kerepotan untuk masalah air. kami bersitirahat di tenda dan berencana untuk sore harinya menuju puncak untuk melihat sunset.
setelah tidur dirasa cukup, kami bersiap untuk pendakian selanjutnya menuju tegal alun dan puncak papandayan. tidak disangka ternyata jalananya curam sekali. kami benar-benar harus menaiki bebatuan serta akar-akar pohon untuk dapat mencapai puncak. waktu semakin sore dan mendung. kurang lebih satu setengah jam kami sampai di tegal alun yang dipenuhi padang edelweiss namun cuaca sedang tidak mendukung, kabut serta gelap. dan kami memutuskan untuk turun dan tidak melanjutkan ke puncak. padahal jarak dari tegal alun ke puncak tidak terlalu jauh. di perjalan turun hujan serta kabut semakin tebal. semuanya sudah bersiap dengan jaket dan headlamp untuk penerangan jalan. dalam pendakian ini, sigit dan adit sudah pernah ke papandayan sehingga dia yang menjadi pemandu jalan. selama perjalanan, novi dan andes mencari kayu bakar untuk api unggun. malam berselang, kami pun tiba di tenda dan mulai memasak untuk makan malam.
malam hari nya, dengan cuaca yang cukup dingin, kami makan seadanya, hanya mie yang dapat dimasak dan menyeduh susu serta teh. ditemani api unggun, kami mencantap makan malam pertama kami digunung. tidak banyak perbincangan pada malam itu, kami akhiri dengan istirahat dan bsk paginya kami berencana kembali ke puncak untuk melihat sunrise. namun apa dikata, gerimis turun dan membuat semuanya malas keluar dari sleepingbag. sunrise terlewatkan, namun kami sempat ke tebing dan mencari spot untuk berfoto-foto.
pagi nya kami lewati dengan sarapan, dan berfoto-foto. setelah dirasa cukup kami bergegas untuk merapikan tenda dan mulai packing untuk turun. setelah semua alat dan tenda masuk kembali ke cariel, tak lupa juga sampah dibereskan dan dibawa turun. lalu kami membicarakan tentang patungan dan segala macam yang berhubungan dengan pengeluaran karena pada dasarnya segela pengeluaran bersama harus dibagi rata atau patungan. masalah keuangan selesai, kami berdoa agar selamat hingga sampai rumah dan dipertumukan lagi dikesempatan berikutnya.
perjalanan turun yang lumayan lebih ringan kami sempatkan untuk berfoto dan beristirahat. perjalanan turun kami pun diiringii oleh pendaki lainnya. sekitar siang tengah hari kami sampai di bawah dan beristirahat sejenak sambil mencari mobil bak. selang beberapa lama kami sampai juga kembali di terminal Guntur garut. kami makan siang dan tiba-tiba teringat untuk pembagian foto yang menggunakan banyak sekali kamera. wah terjadi insiden kecil pada saat itu. harusnya kita sudah dapat pulang ke Jakarta sore hari namun karena hal ini kepulangan kita tertunda. ternyata memori ayu tertinggal di pintu masuk gunung papandayan. sontak semua panik, terutama niki yang terkahir kali memegang memori tersebut. niki berusaha untuk mencari dan mengingat kembali sebelum akhirnya diputuskan untuk menelfon petugas pintu masuk gunung papandayan untuk membantu mencarikan memori yang tertinggal disana. syukur memori tersebut dapat ditemukan oleh petugas, dan bersedia untuk mengantar ke terminal Guntur. problem slove, namun kita akhir nya pulang telat. sekitar jam 7 kami baru naik bus kembali ke Jakarta.
tidak apa, karena dengan adanya kejadian tadi membuat kita semakin bisa menyikapi segala kesalahan serta keteledoran. juga belajar untuk saling memaklumi. kalau tidak ada kejadian kehilangan tadi, mungkin perjalanan ini ditutup alakadarnya saja. hahaha sampai di Jakarta tengah malam dan kami berpisah di terminal kp. rambutan. sebelumnya hima turun di gerbang tol cileunyi. sedih bercampur bahagia, karena pengalaman ini adalah pengalaman pertama sekaligus perkenalan dari awal semua perjalanan kita selanjutnya. terimakasih ayu, hima, rapin, niki, adit, sigit, andes dan novri.